h1

Hubungan Kekuasaan, Kebaikan dan Kekerasan

September 30, 2009

HUBUNGAN KEKUASAAN, KEBAIKAN DAN KEKERASAN

Oleh Sutrisno

Abstrak
Kekuasaan, kebaikan dan kekerasan selalu ada dan menjadi bagian dari kehidupan alam termasuk kehidupan manusia. Kekuasaan terbentuk dari relasi antara pemimpim yang dipimpin Kekuasaan dalam kehidupan ini merupakan tujuan antara dan tujuan akhirnya adalah kebaikan. Dalam proses membentuk kekuasaan diperlukan kebaikan dan kekerasan. Tanpa kebaikan dan kekerasan kekuasaan itu tidak akan terbentuk dan pada ahkirnya sulit mewujudkan kebaikan bagi kehidupan. Kekuasaan dibatasi oleh hukum, kebaikan dibatasi oleh kepentingan dan kekerasan dibatasi oleh kewenangan.

Kata Kunci :
Kekuasaan, pemimpin, yang dipimpin, kebaikan dan kekerasan

1. Pendahuluan

Kekuasaan, kebaikan dan kekerasan selalu ada dan menjadi bagian dari kehidupan alam termasuk kehidupan manusia. Kekuasaan ditempatkan pada variabel dependent sedangkan kebaikan dan kekerasan diletakan pada variabel independent. Kekuasaan dalam kehidupan ini merupakan tujuan antara dan tujuan akhirnya adalah kebaikan. Dalam proses membentuk kekuasaan diperlukan kebaikan dan kekerasan. Tanpa kebaikan dan kekerasan kekuasaan itu tidak akan terbentuk dan pada akhirnya sulit mewujudkan kebaikan bagi kehidupan. Tulisan ini ingin mengungkapkan penggunaan kekerasan sebagai bagian dari pelaksanaan kekuasaan. Pertanyaan yang terpenting adalah bagaimana menempatkan kebaikan dan kekerasan dalam kerangka kekuasaan. Menempatkan kebaikan dalam kekuasaan sudah tidak diragukan lagi, yang menjadi persoalan adalah apakah penggunaan kekerasan sebagai bagian dari kekuasaan itu etis atau tidak etis ? Kalau penggunaan kekerasan itu dikatakan etis, maka terkait dengan syarat penggunaan kekerasan dan jenis kekerasan yang boleh digunakan. Sedangkan bila kekerasan itu dianggap tidak etis, maka tidak perlu dibahas lagi, artinya kita harus meninggalkan segala bentuk kekerasan tanpa syarat. Dengan asumsi kekuasaan yang dimaksud disini adalah kekuasaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral dasar.
Untuk menjawab pertanyaan ini, diajukan tiga konsep, yaitu : 1) Kekuasaan sebagai varibel dependent ; 2) Kebaikan sebagai variabel independent, dan 3) Kekerasan sebagai varibel independent. Intinya kekuasaan dipengaruhi oleh kekerasan dan kebaikan.

2. Pembahasan
Kekuasaan. Kekuasaan bersifat alamiah. Kekuasaan yang dimaksud adalah relasi antara pemimpim yang dipimpin. Untuk memahami konsep kekuasaan diajukan dua konsep, yaitu pemimpin dan yang dipimpin. Kekuasaan tanpa pemimpin dan yang dipimpin, maka kekuasaan itu sesungguhnya tidak ada. Pada dasarnya manusia adalah pemimpin dimuka bumi (khalifah). Pemimpin adalah komandan (sentrum) saat terjadinya kekuasaan, sedangkan yang dipimpin adalah sebagai pelaksana dari keinginan yang memimpin dan memberi kebaikan bagi yang dipimpin. Korelasi ini menimbulkan hubungan baru, dimana yang semula kekuasaan sesuai keinginan yang memimpin berubah menjadi keinginan yang memimpin dan yang dipimpin untuk mencapai sebuah tujuan bersama, yaitu mendapatkan kebaikan. Jadi antara pemimpin dan yang dipimpin merupakan satu kesatuan membentuk sistem kekuasaan. Kekuasaan merupakan tujuan antara dalam sistem kekuasaan, sedangkan tujuan akhirnya adalah kebaikan (kebahagiaan). Dalam konteks negara, pemimpin direpresentasikan oleh para pemegang kekuasaan dan yang dipimpin dipresentasikian oleh individu atau warga negara yang berada dinegara itu. Dalam hal ini negara (pemimpin negara) harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan para anggota masyarakatmya terutama yang lemah dan sebaliknya warga negara mempunyai hak dan kewajiban untuk melindungi negara, menjaga kedaulatan negara dan menjaga keutuhan wilayahnya serta kebajikan-kebajikan lainnya. Jika ini terjadi, maka Kekuasaan akan tetap berlangsung selama yang dipimpin merasakan kebaikan dari sang pemimpin, walaupun ada penggunaan instrumen kekerasan hal itu tidak menjadi masalah, selama penggunaannya mendatangkan kebebasan, keadilan, kesetiakawanan dan persatuan. Dengan demikian kekuasaan merupakan sebuah pengakuan dari yang dipimpin terhadap pemimpinnya. Sebagaimana juga yang dikemukakan Hannah Arendt, ”…..,tanpa sebuah rakyat atau kelompok tidak akan ada kekuasaan….” . Negara adalah lembaga kekuasaan dan sekaligus lembaga kesosialan manusia paling luas yang berfungsi menjamin agar manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang melampaui batas lingkungan sosial keluarga, desa dan kota.
Dalam sistem tata surya, matari sebagai pemimpin (sentrum) dari delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, meteor, asteroid, komet, planet-planet kerdil/katai (asteroid), dan satelit-satelit alami. Selanjutnya dalam sistem yang lebih besar, sistem tata surya hanyalah subsistem dari sistem galaksi Bima Sakti dengan jarak sekitar 2,6 x 1017 km dari pusat galaksi, atau sekitar 25.000 hingga 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Tata surya mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti (sentrum) dengan kecepatan 220 km/detik, dan dibutuhkan waktu 225–250 juta tahun untuk untuk sekali mengelilingi pusat galaksi. Dengan umur tata surya yang sekitar 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita telah mengelilingi pusat galaksi sebanyak 20–25 kali dari semenjak terbentuk
Dalam dunia hewan, misalnya ”dunia kekuasaan serangga rayap”, dalam satu koloni atau subkoloni hanya ada satu pemimpin yang disebut ”ratu rayap” (queen) dan rayap yang lainnya dalam komunitas rayap hanyalah rayap-rayap yang dipimpin. Dalam dunia rayap mempunyai pembagian kasta, yaitu : ratu (queen) sebagai pemimpin, dan yang dipimpin terdiri dari : calon ratu (laron), pekerja (wokers) dan prajurit (soldier). Ratu berfungsi bertelur, makan dan mengendalikan koloni melalui sistem hormon dari sarangnya. Sedangkan rayap pekerja dengan populasi 90-%-95% bertugas mencari makanan untuk diberikan kepada ratu dan anggota koloni lainnya. Sementara itu rayap prajurit dengan total populasi antaar 5-10% bertugas menjaga sarang dari gangguan musuh. Demikian juga dalam kelompok hewan lainnya. Tujuan dari kekuasaan adalah melindungi komunitas yang dipimpin, dengan kata lain pemimpin harus melindungi yang dipimpin, sebab tanpa upaya perlindungan terhadap yang dipimpin, maka kepemimpinannya tidak diakui atau tidak ada dan secara otomatis kekuasaannya pun tidak ada. Dalam ketiadaannya itu, bisanya akan dicari pemimpin baru. Dengan demikian pemimpin dalam konteks kekuasaan bersifat lembaga atau institusi dalam kekuasaan dan yang dipimpin merupakan lembaga pendukung dalam kekuasaan dan sekaligus pemberi mandat kekuasaan.

Sistem Kekuasaan Rayap

Sistem Kekuasaan Rayap

Bandingkan pada kehidupan manusia, konsep pemimpin dan yang dipimpin terpampang dengan jelas. Platon membangun model negara, dimana dalam negara terdapat tiga golongan, yakni : 1) para penjamin makanan yang terdiri dari petani, tukang, pedagang, buruh, pengemudi kereta, pelaut; 2) para penjaga, yang seluruh hidupnya mengabdi pada kepentingan umum. Mereka diberi pendidikan intensif sejak umur dua tahun, dengan mata kuliah yang mengembangkan tertib dan kebijaksanaan, seperti ; filsafat, gimnastik, dan musik ; 3) para pemimpin negara, yang diambil dari penjaga yang paling memahami filsafat. Disisi lain dalam hubungan manusia dengan Tuhan, bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifah (pemimpin dibuka bumi). Ia dapat berkedudukan sebagai pemimpin dalam keluarga, suku, kelompok masyarakat, bangsa, dan negara serta pemimpin dari negara-negara. Sedangkan yang dipimpin juga adalah manusia. Dalam negara modern pemimpin memiliki legitimasi kekuasaan apabila dipilih dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selanjutnya kepemimpinannya menjadi tidak diakui apabila merugikan atau tidak mendatangkan kebaikan bagi yang dipimpinnya (rakyat), dan secara alamiah yang dipimpin akan mencari pimpinan yang baru. Dalam dunia manusia, pemimpin mendapat julukan bermacam macam, antara lain : pemimpin keluarga disebut kepala keluarga, pemimpin suku disebut kepala suku, pemimpin bangsa disebut raja, presiden , perdana menteri, pangeran, kaisar dan lain-lain. Pemimpin umat agama, ada yang disebut Nabi, Khalifah, Paus, Pendeta, Ulama, dan lain-lain. Kepimpinan nabi tetap diakui oleh umatnya walaupun nabi telah wafat, namanya tetap dikenang ajarannya tetap dijalankan, seklipun mereka yang ada termasuk manusia yang hidup dijaman ini tidak pernah secara langsung melihat pemimpinnya (nabi).
Bagi yang percaya kepada Tuhan, Tuhan merupakan pemilik kekuasaan tertingi atau pemimpin tertinggi dalam alam jagad raya ini. Tuhan mendapat julukan yang Maha Kuasa oleh yang dipimpinnya (makhluk-makhluk ciptaannya, termasuk manusia). Keberadaan Tuhan sebagai yang maha kuasa, karena ia mampu menciptakan kebaikan bagi makhluk ciptaannya. Tuhan memberiklan ajaran kepada umat manusia melalui nabi-nabinya berupa kebaikan dan akan membalas kebaikan dengan kebaikan (surga, pahala) dan mengancam (kekerasan) dengan ancaman dosa, neraka, dan tidak ada ketentraman dalam hidup bagi mereka yang tidak menjalankan kebaikan.
Dengan demikian kekuasaan merupakan sebuah sistem dan sekaligus tujuan antara dengan menggunakan instrumen kebaikan dan kekerasan yang tujuan akhirnya memperoleh kebahagiaan (tujuan akhir). Hal ini berbeda dengan pandangan C.Wright Mills sebagaimana dikutip oleh Hannah Arendt berpendapat bahwa ”….jenis kekuasaan tertinggi adalah kekerasan….” . Dalam pandangan ini kekerasan merupakan salah satu jenis kekuasaan.
Kebaikan. Kebaikan adalah tindakan yang memberkan rasa tenang, nyaman , serta mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan bagi yang menerimanya. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Aquinas tujuan akhir hidup manusia adalah hidup dengan baik (bene vivere) dan menuju kebahagiaan abadi (beate vivere) . Kebaikan juga memiliki daya tangkal (deterence efect) dan daya simpati dan empati, yang membuat orang enggan melakukan kekerasan terhadapnya. Kebaikan jang meliputi ; kesejahteraan, kebahagiaan, prinsip moral dasar (kebebasan, keadilan, kesetiakawanan dan persatuan). Kebaikan merupakan variabel dependent dan sekaligus independent (bebas). Artinya kebaikan menjadi tujuan kekuasaan, hal ini mengindikasikan kekuasaan yang dijalankan oleh pemimpin tidak ada atau tidak diakui kalau tidak mendatangkan kebaikan. Maknanya kebaikan menyebabkan kekuasaan itu ada dengan kata lain kebaikan merupakan faktor yang paling berpengaruh (dominan) dalam kekuasaan. Sebagai ilustrasi pemimpin yang berhasil membawa kemakmuran atau dianggap membawa kemakmuran, biasanya akan mendapat waktu kekuasaan yang maksimal. Raja yang adil, tetap berkuasa sampai akhir hayatnya, bahkan kadang-kadang dianggap keturunan dewa dan ada yang mengaku sebagai Tuhan (Firaun). Presiden yang adil diminta oleh rakyatnya untuk memimpin seumur hidup atau selama mungkin. Nabi merupakan pemimpin umat beragama yang tak tergantikan sampai wafat bahkan berabad-abad setelah ia wafat.
Kekerasan. Variabel independent kedua dalam kekuasaan adalah kekerasan. Kekerasan yang dimaksud disini adalah tindakan yang menimbulkan dampak psikis dan fisik bagi yang mengalaminya atau yang menerima tindakan. Kekerasan dapat berlangsung jika ada kekuatan (strength) dan daya paksa (force). Kekerasan digunakan dalam kekuasaan dimaksudkan untuk melindungi kebaikan atau mendatangkan kebaikan, bukan semata-mata untuk melindungi kekuasaan. Sebab jika kekerasan digunakan untuk melindungi kekuasaan, tanpa bermaksud melindung kebaikan atau mencapai kebaikan, maka kekuasaan itu tidak akan pernah berhasil (gagal atau tidak langgeng atau berlangung sementara).
Para pemimpin pejuang kemerdekaan Indonesia sebagai kelompok masyarakat yang terjajah juga melakukan kekerasan (perang) untuk mendapatkan kemerdekaan dari penjajah dan membentuk negara yang berdaulat (kekuasaan). Keberhasilan ini, karena mendapat dukungan dari rakyat Indonesia (yang dipimpin). Menurut pandangan Ratzel ”…..perang bukanlah tergolong perilaku barbaris (biadab) akan tetapi justru memandakan hadirnya peradaban yang tinggi . Amerika Serikat dan Sekutunya menyerang Irak, hanya semata-mata untuk menjatuhkan rejim Sadam Hussein yang dituduh menyimpan senjata pemusnah massal, yang pada kenyataannya tidak terbukti. Baru-baru ini Korea Utara mengancam akan menggunakan kekuatan nuklirnya, bila negara tersebut diembargo. Intinya perang dilakukan dengan alasan untuk melindungi kedaulatan negara, kepentingan nasional dan lain sebagainya, dimana prinsipnya memberikan perlindungan terhadap rakyatnya. .
Kekerasan yang digunakan hanya untuk melindungi kekuasaan tanpa mendatangkan kebaikan, maka kekerasan itu akan ditolak. Hitler (Nazi Jerman) merupakan contoh kekuasaan dengan kekerasan yang ditolak karena tidak mendatangkan kebaikan bagi bangsa atau negara lain atau masyarakat internasional. Setan merupakan makhluk Tuhan yang ditolak, karena menggunakan segala cara termasuk kekerasan untuk menggoda manusia, dengan tujuan agar kekuasaannya tidak disaingi oleh manusia (adam). Raja Fira’uan ketika melakukan kekerasan terhadap Nabi Musa, tidak berhasil (ditolak) karena hanya semata-mata mempertahankan kekuasaan dan tidak mengandung kebaikan, dan banyak contoh lainnya. Pada prinsipnya kekerasan yang tidak terarah atau mengandung kesewenang-wenangan akan ditolak. Kesewenang-wenangan maknanya adalah menggunakan kekuasaan dengan kekerasan yang tidak mengandung kebaikan. Dengan demikian kekerasan tidak selalu identik dengan kesewenangan, sebab ada kekerasan yang bertujuan melindungi kebaikan atau mengarahkan kepada kebaikan. Hal ini berbeda dengan pandangan Hannah Arendt yang menyatakan”……..kekerasan menyembunyikan dalam dirinya sebuah unsur tambahan yang berupa kesewenang-wenangan…..” .
Pada dunia hewan, misalnya kehidupan ayam, untuk melindungi anak-anaknya atau calon anak (telur) induk ayam melakukan pengeraman selama 21 hari dan makhluk lain yang mencoba mendekati termasuk manusia akan dipatuk (kekerasan). Tindakan ayam mematuk dalam konteks ini bukan kekerasan yang sewenang-wenang, akan tetapi kekerasan yang mengandung kebaikan. Demikian juga yang dilakukan oleh harimau, gajah, dan hewan-hewan lainnya, selain melindungi anaknya mereka juga melindungi daerah (wilayah) kekuasaannya tempat mereka mencari makan. Makhluk yang melanggar wilayahnya akan diserang atau diusir dengan kekuatan fisiknya (strength), dan daya paksa (force) yang mengindikasikan bentuk kekerasan, dalam rangka menjaga habitat (kebaikan) bagi kelompok yang dipimpinnya
Dalam suatu komunitas manusia diterapkan norma hukum bagi yang melanggar kebaikan dan demi kebaikan. Misalnya norma sopan-santun, yang melanggar akan diusir, dicaci maki, dipukul, atau dijauhi (kekerasan). Norma agama, yang melanggar kena sanksi dosa, masuk neraka, dan disiksa diakhirat nanti (kekerasan), bahkan dalam kehidupan didunia, mereka yang melanggar agama atau menghina agama dapat diancam dibunuh, dan akhirnya dapat menimbulkan konflik berdarah (kekerasan). Dalam negara ada hukum positif (Undang-Undang) yang melanggar dapat dikenakan hukuman mati, kerja paksa, dimasukan kedalam penjara (kekerasan). Semua kekerasan yang dimaksud dalam rangka menjaga kebaikan atau dengan alasan tegaknya kebaikan. Hukum atau aturan tidak lebih adalah untuk melindungi kebaikan dengan cara mengancam bagi yang melanggar. Dalam prakteknya kekerasan juga digunakan dalam penegakkan hukum. Dengan demikian hukum juga merupakan kekerasan yang disahkan. Manusia yang tergabung dalam sebuah negara-pun membangun perangkat-perangkat yang mampu melakukan kekerasan dan disahkan secara hukum, seperti Tentara, Polisi, senjata, bom dan lain-lain.
Dalam sejarah manusia tidak pernah lepas dari perang (kekerasan) dan damai (kebaikan). Menurut Frederick H. Hartmann perang dan damai merupakan produk dari interaksi saling pengaruh-mempengaruhi dari kepentingan nasional, yang berujung perang atau damai tergantung dari interaksi tersebut. Hasil penelitian Ivan S.Block antara tahun 1496 sebelum masehi sampai 1861 sesudah masehi, atau dalam kurun waktu 3357 tahun , terdapat 227 tahun saja yang damai dibumi, sedangkan selebihnya 3130 dunia selalu dilanda perang. Sedangkan menurut Alfin Toffler antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1990 atau selama 2340 minggu dunia hanya mengalami 3 minggu saja yang benar-benar tenang atau bebas dari perang .
Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang mengaku sebagai pejuang demokrasi, tetapi tidak pernah lepas dari tindakan kekerasan (perang) terhadap negara yang dianggapnya tidak tunduk terhadap demokrasi atau berlawanan dengan ideologinya, misalnta Komunis. . Amerika Serikat dalam melawan kegiatan subversif, spionase, dan bentuk kegiatan lainnya yang dilakukan oleh negara Komunis dengan melakukan semboyan dunia bebas (free world), memberikan bantuan ekonomi, militer bagi sekutunya atau negara yang anti komunis . Pemimpin Amerika selalu mendapat dukungan dari rakyatnya atau negara sekutunya selama menguntungkan (kebaikan) baginya. Berbagai peperangan telah dilakukan, perang dunia kedua melawan Jerman, perang Vietnam (perang ideologi- mencegah penyebaran Komunis), menduduki Irak, menduduki Afganistan dengan alasan menghancurkan terorisme.
Indonesia merdeka, dan kemerdekananya itu diperjuangkan demi kebaikan bangsanya, melalui kekerasan (melakukan perang) terhadap Bangsa Penjajah. Demikian juga yang dilakukan oleh berbagai bangsa didunia. Berbagai negarapun mendirikan pakta-pakta pertahanan, seperti NATO, SEATO, ANZUS dan lain.
Hubungan Kekuasaan kebaikan dan Kekerasan. Telah dijelaskan diatas bahwa kekuasaan itu ada jika mendatangkan kebaikan bagi yang dipimpinnya. Ketika kekuasaan itu terancam, maka diperlukan kekerasan. Kekerasan yang dimaksud bukan untuk melindungi kekuasaan semata-mata, akan tetapi kekuasaan yang mengandung kebaikan bagi yang dipimpinnya atau yang akan dipimpinnya. Kebaikan saja, tidak dapat melindungi kekuasaan, terutama saat kekuasaan terancam, yang otomatis akan mengancam kebaikan, dan yang mampu melindungi kebaikan adalah kekerasan. Ancaman selalu ada setiap saat dalam kehidupan manusia, dan oleh sebab itu kekerasan juga diperlukan setiap saat. Misalnya Negara (kekuasaan) membutuhkan hukum (kekerasan) untuk melindungi kebaikan (keadilan, kebebasan, kesamaan, kesetiakawanan, dan martbat manusia) bagi rakyatnya. Namun juga harus diakui hukum adalah tananan normatif yang tidak berdasarkan paksaan semata-mata, melainkan berdasarkan pengakuan masyarakat.
Agama yang diciptakan Tuhan untuk memberi kebaikan bagi manusia, namun disisi lain Tuhan juga memberikan sanksi kepada manusia, berupa dosa, siksa, neraka, hukuman baik itu didunia maupun di akhirat. Hukum Cambuk, hukum Rajam, merupakan contoh ancaman yang bersifat kekerasan didunia bagi yang melanggar norma agama didunia. Sedangkan Surga dan siksa api neraka diterima setelah diakhirat nanti.
Batas- Batas Kekuasaan, Kebaikan dan Kekerasan. Pandangan John Locke untuk menjadikan kekuasaan negara berada pada batas yang wajar atau untuk mencegah kekuasaan negara melampaui batas yang wajar dilakukan dengan mengembangkan paham konstitusi. Demikian juga pandangan Thomas Aquinas, negara tidak ditaati begitu saja, melainkan hanya sejah negara bertindak dalam batas-batas wewenangnya dan apabila melampaui batas wewenangnya, negara akan kehilangan hak atas ketaatan rakyatnya . Indikator lain yang membatasi kekuasaan adalah kebaikan. Kebaikan adalah tindakan yang memberikan rasa tenang, nyaman dan bahagia bagi yang menerimanya. Pada prinsipnya kebaikan yang dilakukan manusia tidak memiliki batas. Akan tetapi pada kenyataan tindakan kebaikan sekelompok manusia, dibatasi oleh kepentingan sekelompok manusia lain, yang pada akhirnya mendatangkan konflik (kekerasan). Disisi lain kekerasan memiliki batas. Batas kekerasan ialah sebatas wewenang sesuai dengan ancaman yang diterimanya. Sebagai ilustrasi, batas bangsa Indonesia mengusir penjajah dengan jalan perang, hanya sebatas teritorial yang diakui dan dirasakan sebagai milik Indonesia. Artinya kita tidak boleh menyerang sampai ke negara penjajah, apalagi berniat menghancurkan negara penjajah. Kalau ini dilakukan pasti akan mendatangkan protes atau kecaman dari masyarakat dunia, karena melampaui kewenangannya. Demikian juga halnya dengan keputusan hakim dalam memberikan sanksi hukuman sebatas atau sesuai kesalahan yang dilakukan terdakwa, dan sanksi itu diharapkan akan mendatangkan kebaikan bagi terdakwa. Sanksi yang demikian akan memberikan rasa adil, tidak akan menimbulkan konflik
Premis-Premis
Berdasarkan pembahasan diatas, ada beberapa premis yang terkait dengan kekuasaan, kebaikan dan kekerasan bila dikaitkan dengan kehidupan negara, yaitu :
a. Kekuasaan
1) Premis-1. Kekuasaan dalam sebuah komunitas akan tetap eksis apabila ditujukan bagi kebaikan yang dipimpinnya (rakyat)
2) Premis-2. Kekuasaan memerlukan kekerasan, untuk melindungi kebaikan bagi yang dipimpinnya (rakyat).
3) Premis-3. Kekuasaan tidak akan terbentuk tanpa kebaikan dan kekerasan.
b. Kebaikan
1) Premis-1. Kebaikan merupakan hal harus ada, sebab tanpa kebaikan kekuasaan tidak pernah ada. Dengan perkataan lain kebaikan merupakan kebutuhan mutlak dalam kekuasaan.
2) Premis-2. Kebaikan merupakan hal harus ada, namum kebaikan saja tidak dapat melindungi kekuasaan, terutama bila ada ancaman yang akan menggagalkan kebaikan.
3) Premis-3. Kebaikan dalam rangka melindungi kebaikan, ,akan membentuk kekerasan guna mempertahankan kekuasaan demi kebaikan yang dipimpinnya. Dengan kata lain kebaikan tidak dapat melindungi kebaikan, pada saat kebaikan terancam. Kebaikan hanya diperlukan dalam membangun kekuasaan, akan tetapi tidak mampu melindungi kekuasaan, manakala kekuasaan itu terancam.
b. Kekerasan
1) Premis- 1. Kekerasan akan ditolak dalam sebuah kekuasaan apabila tidak membawa kebaikan bagi yang dipimpinnya atau yang akan dipimpinnya (rakyat).
2) Premis-2. Kekerasan akan diterima dalam sebuah kekuasaan, apabila membawa kebaikan bagi yang dipimpinnya atau yang akan dipimpinnya (rakyat).
3) Premis-3. Kekerasan merupakan syarat dalam sebuah kekuasaan, untuk melindungi kebaikan bagi yang dipimpinnya. atau yang akan dipimpinnya (rakyat)

Gambar-1

3. Kesimpulan

Pertama, Kekerasan merupakan sifat alamiah bagi makhluk ciptaannya termasuk manusia, guna melindungi kebaikan yang didambakan oleh setiap makhluk. Dengan demikian kekerasan merupakan syarat dalam melindungi kekuasaan yang mengandung kebaikan bagi yang dipimpinnya (rakyat). Kekerasan dalam sebuah negara dapat dikatakan etis, selama memberi kebaikan bagi yang dipimpinnya atau yang akan dipimpinnya, serta tidak menjadikan kekerasan sebagai bahan utama untuk membangun kekuasaan. Kekerasanpun dilakukan sebatas kewenangannya. Bila batas kewenangannya dilampaui akan menimbulkan kekerasan baru.
Kedua, Kebaikan merupakan bahan utama untuk membangun kekuasaan, tidak mungkin kekuasaan dibangun dengan bahan utama kekerasan. Kekerasan kemudian diperlukan apabila kebaikan terancam dalam sebuah kekuasaan. Dengan demikian kekerasan tidak identik dengan kesewenang-wenangan..Disisi lain walaupun pada prinsipnya kebaikan itu tidak terbatas, namun dalam kenyataannya kebaikan yang dilakukan sekelompok manusia dibatasi oleh kepentingan kelompok lain, dan bila batas ini dilampaui akan menimbulkan konflik (kekerasan).
Ketiga, Kekuasaan selalu ada dalam kehidupan, termasuk kehidupan manusia, dimana kekuasaan dibentuk oleh kebaikan dan dilindungi oleh kebaikan dan kekerasan. Disisi lain kekuasaan merupakan hasil relasi antara pemimpin dan yang dipimpinnya sebagai suatu sistem. Kekuasaan dibatasi oleh aturan atau hukum agar tidak timbul tindakan sewenang-wenang dari penguasa. Bila hukum dilanggar dalam kekuasaan maka akan menimbulkan kekerasan.

Daftar Pustaka

Arendt, Hannah, Teori Kekerasan, Penerjemah Ghafna Raiza W, Jakarta, LPIP, 2003.

Bagio, Hary Perang Abad -21 dan Sishankamrata, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1996.

Daldjoedi, N, Dasar-Dasar Geografi Politik , Bandung Pt. Citra-Adytia Bakti, 1991.

Magnis-Suseno, Franz, Etika Politik : Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, Jakarta, Pt. Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Purwasito, Andrik, Strategi Global Super Power dalam Era Perang Dingin, Surakarta, Sebelas Maret University Press, 1994.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: